Beranda > Silabus > Petunjuk Pembuatan Slabus

Petunjuk Pembuatan Slabus

PETUNJUK TEKNIS SILABUS

MATA PELAJARAN BIOLOGI SMA

A. PENDAHULUAN

Standar nasional pendidikan merupakan acuan dan pedoman dalam mengembangkan kurikulum. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh satuan pendidikan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 dan 23 tentang standar isi dan standar kompetensi lulusan merupakan sebagian acuan yang digunakan sekolah dalam menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 menyebutkan bahwa standar nasional pendidikan yang terdiri dari standar isi, stadar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.

Pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan berdasarkan standar nasional memerlukan langkah dan strategi yang harus dikaji berdasarkan analisis yang cermat dan teliti. Analisis dilakukan terhadap tuntutan kompetensi yang tertuang dalam rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar; analisis mengenai kebutuhan dan potensi peserta didik, masyarakat, dan lingkungan; serta analisis peluang dan tantangan dalam memajukan pendidikan pada masa yang akan datang dengan dinamika dan kompleksitas yang semakin tinggi.

Penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar sebagai bagian dari pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan dilakukan melalui pengembangan silabus. Silabus merupakan penjabaran secara umum dengan mengembangkan SK-KD menjadi indikator, kegiatan pembelajaran, materi pembelajaran dan penilaian, serta penentuan alokasi waktu dan sumber belajar.  Agar penyusunan silabus mata pelajaran Biologi dapat dilaksanakan dan dipahami dengan baik oleh para pendidik (guru) maka diperlukankanlah adanya petunjuk teknis.

 

Prinsip-prinsip Pengembangan Silabus

Silabus merupakan salah satu produk pengembangan kurikulum berisikan garis-garis besar materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan rancangan penilaian. Dalam pengembangan silabus harus terpenuhi prinsip-prinsip berikut:

1. Ilmiah

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus dalam mata pelajaran Biologi harus benar , sahih – valid, dan dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan: dapat diuji kembali kebenarannya dengan  prosedur-prosedur  metoda ilmiah.

 

2. Relevan

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus mata pelajaran Biologi harus sesuai dengan tingkat perkembangan usia, psikologi, fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik. Misalnya dengan perkembangan usia, psikologi, emosional peserta didik  materi pelajaran  di kelas X  lebih cocok bila materi pembelajaran  bersifat  konkrit, dan untuk  peserta didik kelas XII boleh lebih bersifat abstrak.

 

3. Sistematis

Antar komponen yang membangun silabus mata pelajaran biologi  (kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian)  harus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.  Misalnya kegiatan pembelajaran yang dikembangkan untuk mencapai KD 3.1 Mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, ekosistem melalui kegiatan pengamatan, maka indikator pencapaian yang dikembangkan harus  mengukur pencapaian  KD itu berdasarkan apa yang diperoleh peserta didik, sehingga perlu dirancang secara  berurutan dari mulai mengidentifikasi Kompetensi dasar, menyusun indikator, materi pembelajaran sampai ke sistim penilaian harus berkelanjutan agar tidak terjadi kekeliruan atau tumpang tindih.

 

4. Konsisten

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas)  pada mata pelajaran Biologi antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian.  Misalnya materi pembelajaran yang dikembangkan untuk mencapai KD 2.1 Mendeskripsikan ciri-ciri,replikasi, dan peran virus dalam kehidupan, maka seluruh komponen silabus disusun  harus mampu mendukung ketercapaian KD tersebut.

 

5. Memadai

Isi cakupan indikator, materi pokok, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian pada mata pelajaran Biologi  harus cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.  Contoh: Apa yang dicapai pada KD 4.3  Menganalisis jenis-jenis limbah dan daur ulang limbah di kelas X dalam pengembangan kegiatan pembelajarannya melalui berbagai pengalaman dan isi cakupan materi pembelajaran yang diberikan  harus dapat menjamin ketercapaian  kompetensi dasar

 

6. Aktual dan Kontekstual

Isi cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian mata pelajaran Biologi harus memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, peristiwa yang terjadi dan tuntutan kebutuhan masyarakat. Maka perlu diperkenalkan dalam pembelajaran tentang perkembangan Bioteknologi, perkembangan teknologi kedokteran dalam penyembuhan penyakit, berkembangnya pemanasan global,  krisis kerusakan lingkungan, menurunnya jumlah kekayaan plasma nutfah, dll.

 

7. Fleksibel

Keseluruhan komponen silabus mata pelajaran Biologi harus dapat mengakomodasi variasi peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.  Silabus mata pelajaran Biologi harus dapat menerima berbagai kondisi/perubahan yang terjadi dalam perkembangan kekinian yang ada, adanya tuntutan kondisi lingkungan , ketiadaan spesimen/bahan di sekolah/wilayah,  dll., walaupun diperlukan adanya perubahan yang sifatnya penyesuaian. Dengan demikian mata pelajaran Biologi tetap terus dapat dibelajarkan.

 

8. Menyeluruh

Komponen silabus mata pelajaran biologi harus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).  Mata pelajaran Biologi menuntut ke-3 aspek/ranah kompetensi tersebut agar terinternalisasi pada diri peserta didik menjadi perilaku yang baik dan tangguh melalui kegiatan yang dikembangkan dalam bentuk pengetahuan, kegiatan praktik, dan pembentukan sikap, minat, motivasi, dll.

 

KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN BIOLOGI

Mata Pelajaran Biologi berdasarkan Standar Isi (SI) masuk dalam rumpun mata pelajaran IPA dan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) memiliki karakteristik, antara lain:

1. Mata pelajaran Biologi mempelajari permasalahan yang berkait dengan fenomena alam, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, dan berbagai permasalahan yang berkait dengan penerapannya untuk membangun  teknologi guna  mengatasi permasalahan dalam kehidupan masyarakat.  Fenomena  alam dalam  mata pelajaran Biologi  dapat ditinjau dari objek, persoalan, tema, dan tempat kejadiannya.

 

2. Struktur keilmuan Biologi menurut BSCS (Biological Science Curriculum Study),  Biologi memiliki objek berupa kerajaan/kingdom: (a) Plantae (tumbuhan), (b) Animalium (hewan), dan (c) Protista. Ketiga objek tersebut dikaji dari tingkat molekul, sel, jaringan dan organ, individu, populasi, komunitas, sampai tingkat bioma. Adapun persoalan yang dikaji meliputi 9 tema dasar yaitu: (a) Biologi (sains) sebagai proses inkuiri/penemuan (inquiry), (b) sejarah konsep biologi, (c) evolusi, (d) keanekaragaman dan keseragaman, (e) genetik dan keberlangsungan hidup, (f) organisme dan lingkungan, (g) perilaku, (h) struktur dan fungsi, dan (i) regulasi.

 

3. Pembelajaran Biologi memerlukan kegiatan penyelidikan/eksperimen sebagai bagian dari kerja ilmiah yang melibatkan keterampilan proses yang dilandasi sikap ilmiah. Selain itu, pembelajaran Biologi mengembangkan rasa ingin tahu melalui penemuan/inkuiri berdasarkan pengalaman langsung  yang dilakukan melalui kerja ilmiah untuk memanfaatkan fakta, membangun konsep, prinsip, teori, dan hukum. Melalui kerja ilmiah, peserta didik dilatih untuk berpikir kreatif, kritis, analitis, dan divergen. Pembelajaran Biologi diharapkan dapat membentuk sikap peserta didik dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka akhirnya menyadari keindahan, keteraturan alam, dan meningkatkan keyakinannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

 

4. Keterampilan proses dalam Biologi mencakup keterampilan dasar dan keterampilan terpadu. Keterampilan dasar meliputi  keterampilan mengobservasi, mengklasifikasi, berkomunikasi, melakukan pengukuran metrik, memprediksi/meramal, menginferensi/menyimpulkan, dan menafsirkan. Keterampilan terpadu mencakup mengidentifikasi variabel, menentukan variabel operasional, menjelaskan hubungan antarvariabel, menyusun hipotesis, merancang prosedur dan melaksanakan penyelidikan/eksperimen untuk pengumpulan data, memproses/menganalisis data, menyajikan hasil penyelidikan/eksperimen dalam bentuk tabel/grafik, serta membahas, menyimpulkan, dan mengomunikasikan secara tertulis maupun lisan.

 

LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN  SILABUS

 

Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, perencanaan sistem penilaian, alokasi waktu, dan sumber/alat/bahan.

 

Agar silabus dapat disusun dengan baik, diperlukan langkah-langkah penyusunan sebagai berikut:

 

1.  Memetakan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.

 

Standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Biologi dirumuskan berdasarkan kajian struktur keilmuan Biologi dan tuntutan kompetensi lulusan mata pelajaran Biologi. Untuk melakukan pemetaan  perlu dilakukan, antara lain:

 

a. Mengidentifikasi  standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat pada Standar Isi (Permendiknas 22 tahun 2006) untuk dipolakan/dipetakan  sesuai dengan berbagai pendekatan, seperti prosedural, hirarkis, dari mudah ke sukar, dari konkrit ke abstrak, pendekatan spiral, tematis, terjala atau pendekatan terpadu sehingga akan ditemukan ada pola keterkaitan.

 

b. Tentukan pola pendekatan apa yang akan digunakan. Pengambilan keputusan pola pendekatan yang akan digunakan amat menentukan macam pengurutan yang akan digunakan, seperti urutan keterkaitan SK/KD; mengurutkan sesuai kaidah keilmuan; diurutkan sesuai dengan tuntutan kebutuhan perkembangan usia dan aspek psikologi peserta didik dan lain-lain.  Sehingga sajian silabus tidak mutlak harus sama persis dengan apa yang tersaji dalam urutan Standar Isi, tetapi tidak mengganggu pada tingkatan kelas berbeda. Pengurutan hanya bisa dilakukan untuk SK/KD di tingkatan kelas yang sama dan bukan pada tingkatan kelas berbeda, misalnya SK/KD pada kelas XI diurutkan dengan kelas XII.

 

2.   Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi.

Indikator Pencapaian Kompetensi adalah cerminan dari pencapaian Kompetensi Dasar, yang seharusnya dikuasai peserta didik setelah mereka melaksanakan kegiatan pembelajaran. Perumusan indikator harus mencakup kompetensi yang terkandung di dalam Kompetensi Dasar.

Karena indikator pencapaian tidak disediakan pada Standar Isi (SI) maka pendidik harus dapat menyusunnya sendiri. Untuk menyusun indikator pencapaian kompetensi perlu diperhatikan, antara lain:

a. Secara spesifik dapat dijadikan ukuran untuk mengetahui ketercapaian hasil pembelajaran, maka perlu terpenuhi kriteria:

sesuai tingkat perkembangan berpikir peserta didik;

berkaitan dengan SK dan KD;

memperhatikan aspek manfaat dalam kehidupan sehari-hari (life skills);

harus dapat menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik  secara utuh (kognitif, afektif, dan psikomotor);

memperhatikan sumber-sumber belajar yang relevan;

memperhatikan kontekstual dalam kehidupan peserta didik

dapat diukur/dapat dikuantifikasikan/dapat diamati;

menggunakan kata kerja operasional.

 

b. Perlu diperhatikan betul tingkat perilaku berpikir yang menjadi tuntutan kompetensi dasar. Bila yang diminta adalah tingkat berpikir kompetensi menganalisis, maka indikator pencapaian juga harus menunjukkan minimal pada tingkat berpikir yang sama, yaitu kompetensi menganalisis, seperti: menganalisis, menyeleksi, menominasi, mengedit, menyimpulkan, dll., atau pada tingkat berpikir yang lebih tinggi  mensintesis, seperti: mengkreasikan, merancang, menggeneralisasi, merekontruksi, mengkombinasi, dll., atau menilai, seperti: menilai, mengkritik, membuktikan, memprediksi, menafsirkan, dll. Sehingga cerminan ketercapaian kompetensi dasar dapat terpenuhi.

 

Contoh pengembangan indikator pencapaian:

Kelas X  semester  2

KD: 4.3 Menganalisis jenis-jenis limbah dan daur ulang limbah

KD: 4.4 Membuat produk daur ulang limbah

Indikator pencapaian:

menganalisis jenis-jenis limbah  dan mengklasifikasikannya.

Menelaah jenis limbah rumah tangga yang dapat di daur ulang

Mengkreasikan produk berguna dari  limbah rumah tangga  masing-masing

menilai perilaku sadar lingkungan akan berbagai jenis limbah di lingkungan sekolah/rumah

 

3. Mengidentifikasi  Materi Pokok/Pembelajaran.

Materi pembelajaran berisikan butir-butir bahan pembelajaran pokok yang dibutuhkan peserta didik untuk mencapai suatu kompetensi dasar. Untuk mengidentifikasi materi pembelajaran Biologi dapat dilakukan, antara lain:

*. Tentukan pendekatan yang akan digunakan untuk mengidentifikasi, seperti pendekatan hirarkis, mudah ke sukar, spiral atau klasifikasi 4 jenis: fakta, konsep, prinsip atau prosedur.  Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang harus dipelajari peserta didik, pendidik akan mendapatkan kemudahan dalam cara membelajarkannya. Setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi pembelajaran atau metode, media, dan sistem penilaian yang berbeda-beda. Strategi membelajarkan materi fakta, misalnya dapat dilakukan dengan  pengamatan, sedangkan untuk membelajarkan materi prosedur dapat dengan demonstrasi.

 

Contoh: Indentifikasi materi berdasarkan pendekatan klasifikasi 4 jenis.

 

Fakta     Konsep  Prosedur                Prinsip

Apakah materi pembelajaran menyebutkan kapan, berapa, nama, atau dimana?

 

Contoh:

Sebutkan nama-nama unsur essensial yang mutlak ada dimiliki tumbuhan!

Apakah materi menuntut penjelasan atas definisi, identifikasi, klasifikasi, atau ciri-ciri?

 

Contoh:

Apakah definisi fotosintesis?

Apakah ciri-ciri golongan insekta?   Apakah materi pembelajaran menuntun adanya diagram alir (flowchart), atau langkah–langkah mengerjakan secara urut?

 

Contoh:

Bagaimanakah urutan kerja menguji kinerja enzim katalase?        Apakah materi pembelajaran meminta adanya penerapan dalil, hukum, atau rumus; hipotesis antar variable

(Jika … maka …)?

 

Contoh: Bagaimanakah menerapkan hukum Mendel untuk mendapatkan bibit unggul

 

Tentukan uraian materi pembelajaran. Materi pembelajaran harus mencukupi keluasan dan kedalaman materinya (adekuasi). Keluasan cakupan materi menggambarkan berapa banyak materi-materi yang perlu dimasukkan ke dalam suatu materi pembelajaran. Sedangkan kedalaman materi menyangkut seberapa detail konsep-konsep yang harus dipelajari/dikuasai oleh peserta didik.

 

Contoh:

Jika membelajarkan materi konsep keanekaragaman gen, maka uraian materinya mencakup; (1) Penguasaan atas konsep gen, (2) Dimana gen dapat ditemukan, (3) Bagaimana gen dapat mewariskan sifat individu, (4) Variasi makhluk sejenis (5) konsep bagaimana rekombinasi gen (genotipik) memunculkan variasi fenotipik

 

4. Mengurutkan penyajian uraian materi pembelajaran.

 

Pengurutan diperlukan disebabkan pemahaman terhadap sesuatu pada dasarnya sangat tergantung pada seberapa besar kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi-informasi dasar yang dimiliki sebelumnya. Tanpa urutan yang tepat, maka peserta didik akan sulit memahami materi-materi pembelajaran selanjutnya. Pengurutan uraian materi pembelajaran dapat diurutkan dengan berbagai pendekatan, seperti pendekatan prosedural, hirarkis, dari sederhana ke sukar, dari konkrit ke abstrak, spiral, tematis, terpadu, dan sebagainya.

 

Contoh:

 

Materi Pembelajaran            Uraian Materi Pembelajaran

–       Konsep keanekaragaman gen.   –               Variasi makhluk sejenis

–       Konsep gen.

–       Letak gen

–       Pewarisan sifat individu.

–       Konsep rekombinasi gen (genotipik) memunculkan variasi fenotipik

 

5. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran.

Proses pencapaian kompetensi dasar dikembangkan melalui pemilihan strategi pembelajaran yang diberikan dalam bentuk kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran berisikan pengalaman-pengalaman belajar. Pengalaman belajar merupakan kegiatan fisik maupun mental yang dilakukan peserta didik dalam berinteraksi dengan sumber belajar. Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh peserta didik untuk menguasai kompetensi dasar dan materi pembelajaran yang telah ditentukan. Kegiatan pembelajaran dapat dilakukan di dalam maupun di luar kelas. Untuk itu, metode pembelajaran yang dipilih harus disesuaikan dengan aktivitas belajar yang dikembangkan/berkembang, sehingga kegiatan pembelajaran akan  memerlukan metode yang bervariasi.

 

Dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran perlu juga diperhatikan, antara lain:

a. Memuat kecakapan hidup (life skill). Jenis-jenis kecakapan hidup yang perlu dikembangkan melalui pengalaman belajar antara lain meliputi kecakapan percaya diri, kecakapan berpikir rasional, kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional.

 

contoh:

Kegiatan Pembelajaran (kognitif): Memahami adanya rekombinasi gen dari variasi fenotipik dengan melakukan pengamatan tangan melalui kerja teman sebangku.

Kecakapan hidup:  Kecakapan berpikir rasional, kecakapan sosial, kecakapan akademik.

 

b. Meliputi kegiatan pembelajaran  dimensi kompetensi dari aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Kompetensi ranah kognitif meliputi menghafal, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesakan, dan menilai.

Kegiatan pembelajaran untuk tingkatan hafalan dapat berupa berlatih menghafal verbal atau parafrase di luar kepala, berlatih menemukan taktik menghafal misalnya menggunakan jembatan ingatan keledai (mnemonic). Contoh: Mengingat unsur-unsur makro yang dibutuhkan,  misalnya dengan kalimat: Cara hidup orang di negeri seberang, perhatikan cara mengolah unsur logam besinya. Jembatan ingatannya dari C (cara), H (hidup), O (orang), N (negeri), S (seberang), P (perhatikan), Ca (cara), Mg (mengolah), Fe (logam besi)

Kegiatan pembelajaran untuk tingkatan pemahaman dilakukan dengan jalan membandingkan (menunjukkan persamaan dan perbedaan), mengidentifikasi karakteristik, menggeneralisasi, menyimpulkan, dsb.

 

Contoh: Menemukan karakteristik umum kelas monokotil melalui pengamatan lapangan.

Kegiatan pembelajaran untuk tingkatan aplikasi dilakukan dengan jalan menerapkan rumus, dalil atau prinsip terhadap kasus-kasus nyata yang terjadi di lapangan.

 

Contoh: Mengaplikasikan konsep osmosis dalam kehidupan sehari-hari melalui percobaan.

Kegiatan pembelajaran untuk tingkatan sintesis dilakukan dengan jalan memadukan dan menggunakan berbagai konsep untuk menjelaskan suatu fenomena baru.

 

Contoh: Mengapa air dari tanah dapat mencapai pucuk pohon, dijelaskan dengan konsep transpirasi, perubahan konsentrasi larutan, difusi dan osmosis

Kegiatan pembelajaran untuk mencapai kompetensi pada tingkatan penilaian dilakukan dengan jalan memberikan penilaian (judgement) terhadap objek studi menggunakan kriteria tertentu.

 

Contoh: Menilai kondisi taman di halaman depan sekolah berdasarkan prinsip-prinsip dasar  ekologi melalui diskusi kelompok.

 

Berkenaan dengan ranah psikomotorik, kompetensi yang dicapai meliputi tingkatan gerakan awal, semi rutin, gerakan rutin. Untuk mencapai kompetensi tersebut, Kegiatan pembelajaran yang bisa dilakukan antara lain:

Pada tingkatan penguasaan gerakan awal, peserta didik perlu berlatih menggerakkan sebagian anggota badan. Pada tingkatan gerakan semi rutin, peserta didik perlu berlatih, mencoba, atau menirukan gerakan yang melibatkan seluruh anggota badan. Pada tingkatan gerakan rutin peserta didik perlu melakukan gerakan secara menyeluruh dengan sempurna dan sampai pada tingkatan otomatis. Kegiatan pembelajaran  yang umum dilakukan untuk mencapai ketiga tingkatan tersebut adalah berlatih dengan frekuensi tinggi dan intensif (drill), menirukan, mensimulasikan, mendemonstrasikan gerakan yang ingin dikuasai, dsb.

 

Contoh: Mendemonstrasikan cara-cara pembuatan irisan jaringan (preparat segar) untuk pengamatan anatomis jaringan tumbuhan.

 

Berkenaan dengan ranah afektif, kompetensi yang ingin dicapai antara lain meliputi tingkatan kompetensi pemberian respon (re­sponding), apresiasi (appreciating), penilaian (valuing), dan internalisasi (internalization). Pengalaman belajar yang relevan dengan berbagai jenis tingkatan afektif tersebut antara lain: Meningkatkan pemahaman  terhadap nilai-nilai yang dihadapkan kepadanya, sehingga mampu memberikan pertimbangan dan membuat keputusan terhadap nilai, norma, serta objek yang mempunyai nilai etika dan estetika; Contoh: Kompetensi untuk mampu melakukan penilaian terhadap konteks yang dihadapinya  baik buruk, adil tidak adil, indah tidak indah; dapat mengimplementasikan  nilai, norma, etika dan estetika dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Contoh: Mampu menilai dan memberikan apresiasi terhadap kebijakan Pemda (Pemerintah Daerah) dalam mengeluarkan aturan merokok diruang publik

 

c.  Dapat berupa pemberian tugas berstruktur atau tugas mandiri yang tidak berstruktur.

Penugasan terstruktur di luar jam tatap muka,  alokasi waktu yang diberikan antara 0 – 60 % dari jumlah jam tatap muka.

Contoh penugasan berstruktur:

Kegiatan Pembelajaran:

Membuat rancangan percobaan sederhana pengaruh faktor luar terhadap perkecambahan biji tanaman golongan kacang-kacangan melalui penugasan terstruktur kerja kelompok di sekolah.

 

Tugas!

Buatlah rancangan percobaan sederhana pengaruh faktor luar terhadap perkecambahan biji tanaman golongan kacang-kacangan!

Rancangan kegiatan  berisikan ketentuan, sebagai berikut:

1) Penyusunan proposal yang berisi: Latar belakang masalah, permasalahan, pembatasan masalah (ruang lingkup), tujuan yang akan dicapai, manfaat hasil percobaan, hipotesis, metodologi penelitian yang berisi desain percobaan, tempat percobaan, cara memperoleh data, dan  cara menganalisis data.

2) Penentuan variabel penelitian; variabel bebas dan variabel terikat

3) Pelaksanaan percobaan yang dimulai dengan persiapan alat dan bahan yang harus dipinjam atau diadakan hingga pengamatan hasil dan mengambilan data

4) Membuat laporan percobaan yang di ketik rapih diatas kertas ukuran A4 dengan margin 4-4-3-3 cm dan spasi 1,5 serta menggunakan huruf Times Romans fons 12.

(Waktu yang dibutuhkan diperkirakan 240 menit atau +/- 2 minggu dari jam tatap muka)

 

Kegiatan pembelajaran dalam bentuk tugas mandiri yang tidak berstruktur, yaitu tugas yang mendorong peserta didik mengekspresikan kemampuan diri untuk mengembangkan kreatifitas, minat, bakat, dan kemampuan akademiknya secara mandiri.

 

Contoh penugasan tidak berstruktur:

Kegiatan Pembelajaran:

Mendiskusikan argumentasi yang diberikan Lamarck dan Darwin tentang evolusi.

 

Tugas!

Browsing internet untuk memperoleh informasi tentang bukti adanya peristiwa evolusi

(Diperkirakan diperlukan alokasi waktu: 240 menit atau +/- 2 minggu dari jam tatap muka)

 

d. Dapat berupa kegiatan praktik. Kegiatan praktik diperlukan untuk membuktikan hukum/teori, melakukan percobaan, melihat proses kejadian, mendorong peserta didik dapat bekerja ilmiah dan bersikap ilmiah, dll. Dalam panduan penyusunan KTSP dari BSNP kegiatan praktik diakui setara dengan 1 jam tatap muka, jika praktik dilakukan disekolah selama 2 jam pelajaran, dan jika dilakukan praktik di luar sekolah selama 4 jam pelajaran, maka setara dengan 1 jam tatap muka. Berdasarkan panduan BSNP tersebut terkesan bahwa kegiatan praktik  Biologi cenderung dilaksanakan diluar jam pelajaran tatap muka.

 

Contoh:

Kegiatan Pembelajaran:

Membuktikan faktor-faktor yang mempengaruhi cara kerja enzim katalase pada hati ayam yang mengkatalis hidrogenperoksida menjadi air dan oksigen melalui percobaan kelompok di laboratorium.

 

e. Mendorong ketercapaian kompetensi menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Untuk mewujudkan kompetensi tersebut mata pelajaran Biologi dapat memberikan pengalaman pembelajaran dengan memberikan materi pembelajaran, atau bahan ajar untuk kegiatan pembelajaran, atau instrumen penilaian yang digunakan mengukur pencapaian kompetensi sekali-kali diselingi dengan menggunakan bahasa inggris.

 

6. Penetapan Jenis Penilaian.

 

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Setiap indikator dapat dikembangkan menjadi 3 instrumen penilaian yang meliputi ranah kognitif, psikomotor, dan afektif. Para guru/pendidik diharapkan menggunakan instrumen yang bervariasi agar diperoleh data tentang pencapaian belajar peserta didik yang akurat dalam semua ranah. Penentuan jenis penilaian merupakan seperangkat rencana penilaian yang bervariasi meliputi berbagai jenis tagihan dan bentuk instrumen, yang akan dilaksanakan secara otentik (authentic assesment), berkelanjutan dan berkesinambungan (penilaian berkelanjutan).

Jenis tagihan meliputi: kuis, pertanyaan lisan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ulangan kenaikan kelas, tugas individu, tugas kelompok, responsi, laporan kerja praktik.

 

Bentuk instrumen penilaian meliputi  tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan.  Bentuk instrumen tes meliputi: pilihan ganda, uraian objektif, uraian non-objektif, jawaban singkat, menjodohkan, benar-salah, unjuk kinerja (performans), uji petik kinerja dan portofolio.

 

Bentuk instrumen nontes meliputi: pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, penilaian diri, angket, wawancara, inventori, dan pengamatan.

 

Contoh indikator penilaian dan rancangan penilaian:

Indikator pencapaian dan rancangan penilaian:

Menganalisis jenis-jenis limbah rumah tangga dan mengklasifikasikannya.  Penilaian, jenis tagihan: kuis, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir smester, bentuk instrumen tes: jawaban singkat, pilihan ganda, uraian objektif.

Menelaah jenis limbah rumah tangga yang dapat di daur ulang dan menjelaskan produk baru yang dapat diperoleh berdasarkan pengalaman. Penilaian, jenis tagihan: kuis, ulangan harian, ulangan tengah semester, bentuk instrumen tes: jawaban singkat, pilihan ganda, uraian objektif.

Mengkreasikan produk berguna dari  limbah rumah tangga  masing-masing. Penilaian, Jenis tagihan: Tugas individu, bentuk instrumen non tes: produk

Menilai perilaku sadar lingkungan akan berbagai jenis limbah di lingkungan sekolah/rumah. Penilaian, jenis tagihan: tugas kelompok, bentuk instrumen non tes: laporan pengukuran sikap.

 

7. Menentukan Alokasi Waktu.

 

Alokasi waktu adalah perkiraan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mempelajari suatu materi pembelajaran. Untuk menentukan alokasi waktu, prinsip yang perlu diperhatikan adalah tingkat perkembangan psikologi peserta didik, tingkat kesukaran materi, cakupan materi, frekuensi penggunaan materi baik di dalam maupun di luar kelas terkait dengan kegiatan pembelajarannya, serta tingkat pentingnya materi yang dipelajari.

 

Contoh menentukan alokasi waktu:

Kelas X  semester  2

KD: 4.3 Menganalisis jenis-jenis limbah dan daur ulang limbah

KD: 4.4 Membuat produk daur ulang limbah

Materi Pembelajaran:

limbah dan jenis-jenisnya.

Daur ulang limah

Membuat produk daur ulang limbah

 

Kegiatan  Pembelajaran:

Menganalisis dan mengkalisifikasi jenis-jenis limbah menggunakan gambar-gambar atau benda konkrit melalui diskusi kelas.

Menelaah jenis limbah  rumah tangga yang dapat didaur ulang dengan karakteristiknya melalui diskusi kelas.

Mengkreasi produk baru dari limbah rumah tangga dengan proses daur ulang melalui tugas mandiri tidak berstruktur.

Menilai perilaku sadar lingkungan akan berbagai jenis limbah di lingkungan sekolah melalui penugasan berkelompok secara terstruktur

 

Alokasi waktu: 2 X 45 menit.

Dasar pertimbangan penentuan alokasi waktu bahwa secara umum peserta didik memiliki dasar pengetahuan yang cukup, materi tidak terlampau luas dan dalam, konsepnya sangat mudah dipahami. Pembelajaran materi ini lebih cenderung terhadap pembentukan perilaku praktis dan sikap yang nyata. Tidak terlampau banyak waktu diperlukan untuk pembelajaran tatap muka, pembelajaran lebih banyak untuk berbuat dan menilai atas kondisi nyata yang ada di lingkungan. Pembelajaran lebih banyak dalam bentuk penugasan yang dilakukan diluar jam tatap muka. Waktu tatap muka lebih menekankan pada pengalaman belajar nomor 1 dan 2. Waktu yang diperlukan diperkirakan cukup 2 X 45 menit.

 

8. Menentukan Sumber Belajar.

 

Sumber belajar berarti buku-buku rujukan, referensi atau literatur, baik untuk menyusun silabus maupun kegiatan pembelajaran. Bahan dan alat adalah bahan-bahan dan alat-alat yang diperlukan dalam praktikum atau proses pembelajaran lainnya. Bahan dan alat dapat bervariasi sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran.

 

Contoh :

Kegiatan Pembelajaran:

Menganalisis dan mengklasifikasi jenis-jenis limbah  menggunakan gambar-gambar atau benda konkrit melalui diskusi kelas.

Menelaah jenis limbah  rumah tangga yang dapat didaur ulang dengan karakteristiknya melalui diskusi kelas.

Mengkreasi produk baru dari limbah rumah tangga dengan proses daur ulang melalui tugas mandiri tidak berstruktur.

Menilai perilaku sadar lingkungan akan berbagai jenis limbah di lingkungan sekolah melalui penugasan berkelompok secara berstruktur

 

Untuk mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran tentang limbah dan daur ulang limbah dengan pengalaman belajar  yang dilakukan di dalam dan di luar kelas melalui diskusi kelas dan penugasan, antara lain diperlukan:

Buku sumber berupa buku-buku rujukan/referensi:

Djumhur Winatasamita. Dkk, Biologi 1 untuk SMU, Jakarta: Depdiknas, 1993.

H. Gertz, Hanya satu bumi, Jakarta: Obor mas, edisi-2, 1985.

 

Alat-alat, merupakan benda tidak habis pakai yang dapat digunakan berulang-ulang untuk membantu kegiatan pembelajaran: slide proyektor/LCD dan komputer, kabel penyambung arus listrik, layar proyeksi.

Bahan-Bahan, merupakan benda yang dapat habis pakai/dipergunakan yang membantu kegiatan pembelajaran: Himpunan limbah sekolah/rumah atau foto/gambar macam-macam limbah,  bahan ajar: lks.

Kategori:Silabus
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: